Feature

Begini Sejarah “Penciptaan” Musik Dangdut Di Indonesia

(Foto/Merdeka.com)

(Foto/Merdeka.com)

Linemusik.com – Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik populer tradisional Indonesia. Irama musiknya sangat identik dengan ciri dentuman tabla (alat musik perkusi India) dan gendang. Jenis musik ini bahkan dianggap sebagai musik khas dari Indonesia.

Tapi tahukah anda tentang asal usul gengre musik ini ? Yuk kita kupas.

Musik dangdut dianggap sanggat dekat dengan unsur-unsur hindustani (India), Melayu, dan Arab. Ini tak terlepas dari pengaruh ketiganya dalam lahirnya gengre musik ini.

Musik dangdut diperkirakan mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1968. Gengre musik ini merupakan asimilasi dari beberapa jenis musik yang berkembang di Indonesia ketika itu, seperti qasidah, gambus, musik melayu Deli , dan termasuk pengaruh irama musik Amerika Latin di tahun 1950-an.

Pengaruh musik India melalui film Bollywood, pertama kali dipopularkan oleh Ellya Khadam dengan lagu Boneka India. Lagu inilah yang dianggap sebagai cikal bakal musik dangdut. Setelah itu disusul dengan kelahiran tokoh-tokoh dangdut tahun 1968, diantaranya yaitu Rhoma Irama.

Penyebutan nama dangdut merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) musik India.

Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama padang pasir, dan “dang-ding-dut” India. Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi dangdut saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang terpengaruh oleh lagu India.

Pengaruh India sangat kuat didalam genre musik dangdut di awal kelahirannya. Ini dapat kita lihat dari gaya harmoni dan instrumen. Lalu juga dipopulerkan dengan lagu-lagu dangdut klasik yang bertema India yang dinyanyikan oleh penyanyi-penyanyi dangdut populer seperti Rhoma Irama dengan lagunya yang berjudul Terajana, Mansyur S dengan lagunya yang berjudul Khana, Ellya Khadam dengan lagu Boneka India, dll.

Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi bentuk musik yang lain. Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan.

Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.

Inilah yang membuat genre musik gambus dan kasidah yang popular perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut.

Musik rock, pop, disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut.

Demikian pula yang terjadi dengan musik-musik daerah seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong, langgam Jawa, dikenal sebagai suatu bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot, atau zapin.

Mudahnya dangdut menerima unsur asing menjadikannya rentan terhadap bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah bajakan lagu yang populer dari Venezuela.

Perubahan arus politik Indonesia pada akhir tahun 1960-an sangat mempengaruhi banyak masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer.

Saat ini, musik dangdut semakin mengalami perkembangan. Hal ini tidak terlepas dari modrenisasi alat musik. Musik dangdut lebih banyak dimainkan dengan alat musik orgen tunggal, dan banyak menggunakan house music sebagai dasar nada. Tidak seperti dulu, dangdut sangat kental dengan irama tabla dan gendang, dan ciri khas vokal pada cengkok dan harmonisasi. Pergeseran ini banyak dinilai sebagai penurunan kualitas musik dangdut.