News

Cupumanik : Syair Manunggal Terinspirasi Cara Pandang Memahami “Sang Mutlak”

(Foto/Istimewa)

(Foto/Istimewa)

Linemusik.com – Cupumanik adalah Band Grunge yang terbentuk pada tahun 1996 dengan punggawa Che (vocal) dan Iyak (bass). Pada awal kemunculannya di kota Kembang Bandung, dikutip dari lorongmusik.com, Cupumanik tampil sebagai band cover song lagu-lagu semacam: Pearl Jam, Stone Temple Pilots, Soundgarden, Bush, Live, Silverchair, Foo Fighters sampai Alice in Chains.

Di tahun 1999, Cupumanik mulai mengenalkan musik mereka sendiri, mereka mulai mencari bentuk dan identitas musikal mereka. Lagu yang pertama mereka adalah berjudul Kuyup, sebuah penjelajahan musikal yang sangat blues dengan lirik yang sangat personal, mengenai deskripsi estetika sex.

Lagu kedua mereka berjudul Tentang Abu-Abu, sebuah lirik instrospektif mengenai diri yang sedang “high” tiba-tiba tersadar mendengar senandung adzan magrib.

Tahun 2001, Cupumanik diperkuat personel baru, yaitu Rama (gitar), Eski (gitar) dan Dony (drum). Mereka kemudian mengeluarkan single Maha Rencana. Konsep “Love, Live and Empatyhy” menjadi tag line atau slogan yang sengaja dihembuskan kepada publik dan media sebagai sebuah slogan representatif atau gambaran lirik-lirik yang terkandung di album pertama mereka. Media bahkan menyebut mereka sebagai “sebuah band empathy rock”, “Band Grunge dari Bandung” dan ungkapan lain dari media seperti “Seattle Rock on Acid”.

Baru-baru ini Cupumanik merilis sebuah video musik teranyar mereka untuk lagu Syair Manunggal. Lagu tersebut merupakan single keempat dari album kedua Cupumanik, Menggugat, yang rilis pada 2014 silam. Sebelumnya Cupumanik telah merilis single “Grunge Harga Mati”, “Luka Bernegara”, dan “Omong Kosong Darah Biru”.

Lewat siaran persnya, dikutip dari rollingstone.co.id, Cupumanik menjelaskan, “tujuan dari penulisan lirik lagu Syair Manunggal sebenarnya ada ajakan untuk melihat cara pandang memahami “Sang Mutlak” dengan menggunakan instrument rasa dan kesadaran, bukan melulu dengan cara menyelami bacaan literasi yang ujungnya hanya masuk pada tataran menghapal sejarah dan ayat,” jelas mereka.

Che, sang vokalis menyebutkan, ia terpicu untuk menciptakan Syair Manunggal setelah membaca dua buku yakni Teologi Negatif Ibn Arabi, Kritik Metafisika Ketuhanan (2012) dan Ibrahim Pernah Atheis (2012). Konsep lirik Syair Manunggal pun disampaikan kepada dua sutradara yang bertugas menggarap video musiknya yaitu Adi Tamtomo dan Chicco Desmaykho.

Ingin melihat videonya Syair Manunggal, silakan lihat disini: