Feature

Musik, Alat Perjuangan dan Politik

bung-karno-dan-musik

(Foto/Istimewa)

Linemusik.com – Indah, begitu kata yang pertama kali terucap ketika merefleksikan musik. Tapi taukah anda, dalam sejarah dunia musik tidak hanya menjadi pelipur lara bagi yang bersedih, atau pemacu darah muda bagi yang suka mendengar instrumen keras.Tapi juga alat politik dan perjuangan.

Musik memang netral dan universal. Tapi dia bisa berbaur dimana dan dengan apa saja. termasuk ke ranah politik. Bill Clinton adalah seorang saxofonist hebat. Bung Karno suka bermain gitar, selain menulis drama dan puisi. Presiden Indonesia ke-8, Susilo Bambang Yudhoyono bahkan memiliki 40 lagu dan 5 album dan mendapatkan rekor MURI untuk itu.

Penggunaan musik dalam panggung politik dan perjuangan sudah dimulai sejak abad ke 18, pada masa perang revolusioner Amerika. Ketika itu musik digunakan untuk menyuarakan protes terhadap hak-hak sipil dalam kesenjangan ekonomi, perperangan, maupun politik kepada koloni Inggris.

(Foto/Istimewa)

(Foto/Istimewa)

Seiringnya berkembangnya industri musik, munculah para seniman musik yang menyuarakan aspirasinya melalui seni musik, seperti Joe Hill yang menyanyikan protes perjuangan buruh dan pandangannya terhadap perang dunia pertama, dan juga Bob Dylan yang menyanyikan protes mengenai perang Vietnam.

Di Indonesia, akan mengingatkan kita kepada Iwan Fals. Lirik-lirik lagunya memang banyak berisikan tema protes terhadap kesenjangan sosial. Bahkan lagunya Oemar Bakrie bahkan membuat ia di penjara pada masa orde baru.

Menggunakan media musik sebagai sarana menpresentasikan politik panyak dipandang sebagai langkah yang tepat. Ini karena musik yang menghasilkan sebuah karya akan cenderung dikenang, sehingga berjalan seiring berkembangnya jaman.

Lalu, bagaimana dengan raja dangdut Rhoma Irama yang membuat partai politik dan beberapa kali mendeklarasikan menjadi calon presiden? apakah ini adalah cara ia mendompleng dalam popularitasnya sebagai pemusik untuk kepentingan politik?